PERANAN DAN KEDUDUKAN WANITA DALAM ISLAM

 

PERANAN DAN KEDUDUKAN WANITA DALAM ISLAM

Oleh:Dewi Kumala Sutra

 

Dalam kata pujian sering kita dengar bahwa wanita adalah tiang negara. Apabila wanita baik, maka selamatlah negara. Apabila jahat maka hancurlah negara. Dari segi menuntut ilmu, tak ada satu kata pun yang membedakan kaum wanita dengan pria. Karenanya tak ada alasan, kaum wanita harus menduduki posisi sebagai pelengkap. Tapi dalam kenyataanya terlihat lain. Dalam banyak hal kaum wanita masih disisihkan dari tugas-tugas dan tanggung jawab yang sebenarnya bisa mereka laksanakan.  Namun dibalik itu, kenyataannya yang ada cukup menggembirakan. Dimana pada dewasa ini kedudukan wanita sudah mendapatkan posisi yang cukup membanggakan. Gerakan emansipasi sudah banyak berhasil dibanding masa sebelumnya. Dalam berbagai bidang kehidupan, baik politik maupun bidang lainnya banyak diisi oleh wanita.

Islam pada dasarnya memberikan keleluasan kepada kaum wanita untuk memperjuangkan emansipasi dalam arti positif. Emansipasi yang berlandaskan ketakwaan kepada Allah SWT. Jadi, sama sekali bukan emansipasi yang salah kaprah seperti yang dianut oleh negara-negara Barat. Sejarah umat Islam mengemukakan banyak fakta betapa kaum wanita mendapat hak yang sama dengan laki-laki. Sebagai contoh, bahwa para istri Nabi SAW karena diberikan hak emansipasi sering menyampaikan saran kepada Nabi terhadap masalah yang sulit dipecahkan oleh beliau. Saudah binti Zam’ah salah seorang istri Rasulullah memberikan saran jalan keluar, ketika beliau menghadapi problem untuk memotivasi para sahabatnya agar mencukur rambutnya.

Dari segi apapun Islam tidak pernah menganggap kaum wanita itu hanya sebagai beban bagi laki-laki. Islam malah mengatur wanita, bukan saja sebagai mitra. Namun lebih dari itu wanita diharapkan menjadi penyejuk mata dan penenang hati seorang laki-laki. Islam juga mendorong wanita supaya maju bersama lelaki dalam menata rumah tangga. Sebagaimana yang dilakukan istri Nabi Khadijah. Khadijah tidak saja memeras pikirannya berjuang membantu suaminya menegakkan Islam. Ia juga mengorbankan harta bendanya, hingga Nabi pun bersedih hati saat Khadijah meninggal. Sampai Nabi mengumumkan tahun duka, ketika istri dan pamannya meninggal.

Islam juga memberikan perhatian khusus pada wanita, terbukti dengan ditetapkannya wanita sebagai salah satu nama surat An Nisa (wanita). Sebagian ayat-ayat dalam surat ini membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita, terutama berkaitan soal perlindungan hukum terhadap wanita. Dengan demikian lunturlah pendapat yang menyatakan bahwa Islam itu merendahkan derajat wanita dan tidak memberikan perlindungan hukum dan hak wanita.

Islam membuka kesempatan yang selebar-lebarnya bagi wanita, bahkan Islam mewajibkan kepada mereka menuntut belbagai ilmu dalam memberi kebebasan kepada mereka untuk memberi pengajaran ilmu yang telah mereka kuasai. Ajaran seperti ini telah diterapkan Islam sejak abad ke-14 silam. Sebelum emansipasi digembar-gemborkan di negara Barat. Islam juga tidak mengingkari kecerdasan kaum wanita. Mereka tidak dihalangi jika memasuki berbagai profesi seperti jadi guru, dosen, dokter, pengusaha, pegawai, menteri dan lain-lain. Asal dalam tugasnya diselaraskan dengan sifat kodratnya.

Kebebasan yang diberikan Islam tidak bebas secara absolute; karena kebebasan yang absolute itu sering mendatangkan efek samping  yang berbahaya. Akibat pengerjaan karier yang berlebihan, si istri tidak berperan secara utuh sebagai pendamping suami. Akibat tidak mau disebut ‘tidak modern’, mereka melepaskan tanggung jawab dalam mengasuh dan mendidik anak. Efek samping yang kita lihat dalam masyarakat, muncul generasi muda yang bertingkah seperti orang frustasi, karena mereka tidak memperoleh kasih sayang yang utuh dari ibunya.

Seorang wanita yang berfungsi sebagai ibu, efektif sekali bila dia dapat berperan secara aktif membina  watak dan akhlak anak. Tak dapat dilepas seratus persen masalah sekolah semata. Bukan suatu hal yang berlebihan, bila dikaji secara mendalam timbulnya perkelahian antar pelajar pada waktu akhir-akhir ini karena pihak orang tua terlalu sibuk. Terutama karena ibunya disibukkan oleh keinginan untuk mengejar dan mengembangkan karier. Menurut kaca mata Barat karier bagi seorang wanita harus seimbang dengan kaum laki-laki.

Luhurnya ajaran Islam yang ditujukan kepada wanita dalam mengisi kehidupan ini, terutama yang berhubungan dengan pembinaan dan pendidikan generasi muda, maka akan sangat mulialah apabila kaum wanita dapat memenuhi fungsi tersebut. Hingga ia dapat melahirkan manusia baru  penuh dengan bekal agama yang kuat dengan pribadi terpuji, siap mengisi kehidupan yang akan datang. Wanita akan berprestasi sebagai yang mengadakan perubahan  lebih baik. Perubahan sosial yang diwarnai oleh hal-hal  positif seperti tidak adanya  korupsi, tidak adanya kenakalan remaja, tidak adanya penyalah gunaan wewenang dari yang memiliki kekuasaan dan lain sebagainya. Maka sebagian besar adalah prestasi wanita, yang mengamalkan ajaran Islam  merupakan pedoman kehidupan wanita.

Semoga hasil didikan itu akan mewarnai bangsa yang akan datang. Keberhasilan ibu dalam ikut serta di dalam pendidikan putra-putrinya merupakan sumbangan besar untuk kebaikan masa akan datang. Karena masa akan datang adalah masa anak-anak yang sekarang dalam asuhan para ibu dan para wanita umumnya. Masyarakat pada waktu yang akan datang akan diisi oleh generasi muda dewasa ini. Harapan kita semoga wanita muslimah akan menyadari kedudukan dan perannya dengan tepat. Seperti apa yang telah diajarkan Islam.InsyaAllah.

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: