BAGAYA

BAGAYA

(Terbit di koran Singgalang)

Oleh: Dewi Kumala Sutra

Zaman ini bila tak pandai ’bagaya’ (bergaya) maka susahlah dapat kerja. Benar kah  begitu? Tidak usah jauh-jauh menyigi kota metropolitan di sana, cukup di Padang ini saja.. Waktu tahun satu kuliah, saya pernah ikut pelatihan menulis proposal (untuk mencari dana). Trainer waktu itu bilang ”Kalau Anda ingin masuk ke sebuah intansi, memasukkan proposal guna mencari dana, jangan pakai sandal, baju kaos oblong, atau pun pakai celana gantung! Tapi pakailah baju kemeja, kalau bisa pakai dasi, pakai celana dasar plus sepatu. Dengan tampilan itu, Anda tidak akan diremehkan oleh orang-orang. Misal Anda aktivis di kampus, aktif di organisasi kampus trus butuh dana. Kalau Anda berpenampilan awut-awutan, orang-orang akan meremehkan. Jangan harap orang akan akan kasih dana besar pada organisasi Anda!” Saya hanya manyun mendengar ciloteh trainer itu.

Sebenarnya seberapa penting kah bagaya itu? Ibu-ibu di kampung biasanya cemas melihat anak gadisnya tak bisa bagaya. Takut anaknya tak laku. Orang-orang melamar kerja sibuk mencari model baju yang akan dipakai untuk tes wawancara. Tergantung instansinya. Ada yang minta karyawannya berjilbab, ada yang terserah, bahkan ada juga yang minta berpenampilan menarik. Kalau sudah berpenampilan menarik ini, kita sudah sama-sama tahu. Mereka menginginkan orang-orang berpakaian seksi. Rok di atas lulut. Baju ketat. Make up tebal.

Bagaya itu tak dilarang. Allah suka yang indah. Kata orang condong mato ka nan rancak. Tapi bagaya ada batas-batasnya dalam Islam. Kalau kita main ke taman budaya, banyak sekali kita lihat orang bagaya. Mulai dari rambut gondrong, tato, sampai peragawati cilik. Ibu-ibu itu senang sekali melihat anaknya kecil-kecil sudah berpakaian seksi. Memang sih, anak kecil itu belum berdosa. Tapi, setidaknya mereka sedari kecil diajarkan hal-hal yang baik. Saya ingat waktu saya kecil, saat itu ibu saya belum pakai jilbab. Adik ibu saya membelikan saya dan uni saya empat helai baju. Keempatnya katebe (You can see), sekalipun baju itu tak pernah saya pakai. Uni pun juga cuma pakai beberapa jam. Lalu tidak betah. Ibu saya malah marah pada adiknya yang membelikan kami anak-anaknya baju itu.

Kalau dilihat foto-foto saya waktu kecil. Tak ditemukan satu pun yang berpakaian katebe. Oya, bagaimana dengan baju katebe tadi? Ibu  justru membakarnya. Bahkan ibu tidak mau memberinya pada anak orang lain hanya karena tak ingin anak itu nanti  pakai baju katebe pula. Saya bahagia punya ibu seperti beliau. Meskipun ibu saya belum pakai jilbab hari itu, sekalipun ibu saya bukan seorang yang sudah naik haji,  bukan orang yang pernah mencicipi sekolah agama, tapi setidaknya ibu sudah mengajari saya untuk tidak berpaian seksi. Kalau saya lihat ibu-ibu peragawati cilik di tambud itu banyak yang berjilbab. Tapi entahlah. Saya tidak tahu, apakah jilbab itu hanya sekedar untuk menutup uban? Sekedar bagaya saja kah? Wallahualam.

Padang, 11 Juni 2009

Penulis adalah Bendahara umum FLP wilayah Sumbar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: