Kedai

Cerpen

Kedai

(Dewi Kumala Sutra)

 

 

“Yo pinukuik, onde onde! Angek-angek! Pinukuik Ni?” Seorang bocah berusia delapan tahunan. Bercelana panjang coklat tua. Bergambar Iwan Fals di depannya, dan di belakangnya tampak sebuah tulisan WAKIL RAKYAT! Ia menawari jajaannya pada Ande yang sedang duduk bermenung sambil menghalau lalat-lalat nan genit hinggap pada ikan-ikan asin jualannya di pasar.

Ande menganggukkan kepalanya. “Kesinilah!” sahutnya pada bocah itu.

“Tumben kau baru keluar jam segini? Dari tadi aku tunggu. Baru sekarang hidung kau kelihatan! Tadi ada juga yang lewat, sebaya kau juga, tapi pinukuiknya dingin nggak jadi kubeli.

“Tadi ada pesanan ke Siteba Ni, jadi aku antar dulu!”

“O…” jawab Ande singkat.

“Berapa pinukuiknya Ni?”

“Lima! Hoi! Kau jangan korek-korek hidung di depanku.  Jijik aku. Kau berjualan makanan nanti jijik orang beli kalau kau congkel hidung di depannya!”

“He…he, maaf  Ni!”

“Nih, uangnya!”

“Makasih Ni.”

“Yo pinukuik, onde onde! Angek-angek!” Bocah itu pun berlalu dari pandangan Ande.

Ande menggigit pinukuiknya. Gigit-gigitan itu menghabiskan dua potong pinukuik. Seperti biasa tiga potong pinukuik, akan disisihkannya untuk Udin anaknya yang kini duduk di kelas dua SD. Kebetulan saja sekolah Udin dekat dengan pasar. Jadi setiap hari ia bisa merengek pada amaknya untuk dibelikan apa yang tampak olehnya di pasar. Serabi, es tabu, sala ikan, pergedel jagung,  godok batinta, paruik ayam, apa sajalah yang dilihatnya. Udin kelihatan tampak lebih manja dari kakaknya. Mungkin karena ia bungsu pada hari ini. Besok-besok belum tentu, karena amaknya lagi hamil enam bulan.

Ande kini sibuk melayani pembelinya. Ada yang beli sapek, teri, bada, baledang, udang saiah, dan banyak lagi! Meski dalam keadaan hamil ia masih tampak kuat membuka dua kedainya itu yang saling bersebelahan. Kedai pertama khusus ikan asin, dan kedai disebelahnya khusus jual cabe, bawang putih, bawah merah, buncis, dan tomat saja. Kedai ini lebih kecil dari kedai pertama, dan biasanya kedai ikan asin lebih sering dikunjungi pembeli dari pada kedai sebelahnya. Kedua kedai dikontrak Ande sejak masa gadisnya. Maman suami  Ande PNS di kantor Pengadilan Tinggi. Tiap hari membersihkan mushola kantor, WC, membersihkan ruangan, dan membuatkan air minum atasannya. Pekerjaan itu tak henti-hentinya menghampiri Maman yang hanya tamat SMP. Masih mending dari Ande yang sempat merasakan duduk sampai di bangku kelas dua SMA.

“Amak…., Amak! Tolong Amak! Orang gila, Amak…! Amak…!” Udin berlari menuju kedai amaknya. Berkeringatan, dan napasnya kelihatan menciut-ciut.

“Hoi, kenapa kau?!” Ande tampak kaget.

“Anu Mak, anu….orang, orang gila tuh kejar Udin. Tadi Udin udah beri ia paruik ayam satu! Tapi ia tetap kejar Udin!”

“Kan sudah amak bilang, kalau pulang sekolah lewat depan saja. Jangan lewat belakang pasar,orang gila tuh sering main disitu! Kini kau sembunyi saja di kolong nih! Amak menyurukkan badan Udin di kolong tempat penyimpanan kertas-kertas koran untuk pembungkus ikan asinnya. Sementara itu Ande tetap melayani pembelinya. Mereka datang silih berganti.

Selamat menunaikan ibadah sholat Dzuhur. Allahuakbar…, Allahuakbar. Begitulah pesan singkat dari radio yang dipajang Amak tak jauh dari lampu kedainya. Beberapa detik setelah itu terdengar kumandang adzan dari radio Padang FM itu, begitu juga surau-surau di dekat pasar.

Pembeli sudah tidak ada lagi. Lengang. Ande bergegas mengambil mukenanya ia hendak ke surau. Baru saja ia memasang sendal jepitnya…

“Eh si Udin, di bawah kolong!” ia berbicara sendiri. Ande baru teringat anaknya, dan ia balik lagi masuk ke kedai.

“Ondeh mandeh, tidur kau, Din! Bangun, bangun! Sholat lagi!”

“Mana orang gila tu, Mak?”

“Dia tidak ada!”

“Benar, Mak?”

“Heh,  kau! Kenapa pula amak kau nih bohong!”

Udin pun bangkit. Ia keluar dari kolong. Dilihatnya kiri kanan meyakinkan kata amaknya. Sedikit ia mulai merasa lega. Lalu Ande membawanya ke surau.

***

“ Yo pinukuik, onde onde…! Angek-angek!”

Seperti biasa pagi ini Ande membeli jajaan bocah itu. Gigitannya berulang-ulang menghabiskan satu potong pinukuik. Baru saja ia akan menggigit satu pinukuik lagi…

“Assalamu’alaikum. Uni, benar uni yang punya kedai di sebelah ini?” Tanya seorang wanita, yang dilihat dari tampangnya tak begitu jauh beda usianya dari Ande. Kira-kira tiga puluh lima tahunan.

“Wa’alaikumussalam.O, kedai di sebelah? Ia punya saya. Mau beli apa, Uni?”

“Maaf, saya bukannya mau membeli, tapi cuma ingin mengontrak kedai itu.”

“Mengontrak? Kedai disebelah dan kedai ikan asin ini, bukan punya saya, saya juga mengontrak, Ni!”

“O, jadi uni mengontrak juga?”

“Iya.”

“Uni tolong lah saya. Saya ingin sekali berjualan. Dari tadi saya cari kedai kontrakan, tak ada yang kosong.” Langsung saja wanita itu duduk disamping Ande. Tampangnya kelihatan lelah.

Entah mengapa Ande harus mendengar cerita wanita itu. Ia menceritakan kesedihannya. Katanya anaknya ada bertujuh. Anaknya yang paling besar merantau ke negeri orang dan tak pernah pulang. Anaknya yang paling kecil tiga bulan lalu mati masuk kolam ikan di belakang rumahnya. Sedang suaminya sudah mati pula dua tahun lalu. Kini ia yang mati-matian membiayai sekolah anaknya tiga orang, SD,SMP,SMA. Dua orang anaknya lagi, mengamen, dan kadang mengantar batu es batang ke kedai-kedai minuman di pasar. Siapa yang tak tergerak hatinya mendengar penderitaan wanita itu. Ande luluh juga. Ia rela kedai di sebelah ikan asin itu dikontrak Mimi. Ya, Mimi nama wanita itu. Orang yang punya kedai kontrakan itu pun setuju saja jika Mimi yang mengontrak, semua terserah pada Ande.

Pagi. Pagi yang bersahabat. Dengan basmallah, Ande membuka kedainya. Begitu pula dengan Mimi. Pagi itu, ia menyusun sayur-sayurannya, buncis, terung, bayam, kangkung, lobak, tomat, kentang, jengkol, dan juga tahu, tempe, dan langkok-langkok bumbu masak. Hari demi hari Ande dan Mimi kelihatan akrab, kalau pembeli lagi sepi mereka habiskan waktu untuk bercerita-cerita sambil menghalau lalat-lalat nan hinggap pada jualan mereka. Banyak hal yang mereka ceritakan. Mulai dari cerita masalah anak, pembeli, keuangan, mencikaraui orang lain dan Ande juga tak segan-segan pula menceritakan masalah keluarganya pada Mimi. Namun cerita-cerita mereka terpaksa harus bersambung karena Ande mulai istirahat berjualan. Ia sudah melahirkan, dan anaknya yang nomor dua lah kini menjaga kedai.

***

“Amak, ternyata kurang ajar teman Amak tu. Cadiak buruak, tau Amak nggak bisa menjaga kedai sekarang, dan aku yang bisa menggantikan Amak. Sekarang si Mimi teman Amak tu berjualan ikan asin pula seperti kita! Diambilnya langganan kita!”

“Hah, iya Yung?”

“Iya! Kan kurang ajar dia sama amak tuh! Aku tak pernah lagi sapa dia. Bukan aku yang salah Mak, dulu ketika dia berjualan sayur, dia masih suka menyapaku. Aku pun begitu, sering menyapa dia. Eh nggak taunya sekarang, melihat aku saja dia seperti orang sombong! Muak aku dengan orang seperti itu. Mak, Amak kan sekarang sudah kuat, sudah  enam bulan Amak nggak jualan. Aku tak sanggup lagi jaga kedai, makan hati aku sama si Mimi tuh!”

“Ya, biar lah besok amak yang jaga kedai lagi. Etek Iyen katanya bisa jaga adik kau nih!” Amak memandang sekilas bayinya itu.

***

“Hoi, Ande sudah besar  si Upiak? Kok nggak kau bawa ke kedai?”sahut Uni Irma, tukang parut kelapa yang berjualan di depan kedai Ande. Sedang saat itu Mimi yang melihat Ande mulai bisa jaga kedai lagi, cuma hanya diam, lalu masuk ke kedainya.

“Iya, si Upiak ada yang jaga di rumah!” balas Ande.

“Sudah pandai apa saja dia?”

“He he, sudah pandai duduk-duduk mentimun!”

Ande senang sekali bisa berjualan lagi. Satu-satu wajah langganannya berdatangan. Ada yang memberinya selamat. Ada yang menanyai kabar bayinya itu. Ada pula yang bilang kangen dengan ciloteh Ande si penjual ikan asin itu. Mungkin rejeki Ande yang dimudahkan Allah. Kedai Ande tetaplah ramai walau sudah punya saingan dengan kedai ikan asin Mimi.

“Hoi, Ande! Apa yang kau banggakan pula dengan kehidupan kau! Suami kau saja tukang membersihkan WC. PNS miskin! Rumah saja belum terbeli!” Mimi tiba-tiba saja berciloteh begitu. Ande tercengang sebentar, tapi tetap melayani pembelinya dengan senyuman meski pembeli-pembeli itu tau kalau Ande sedang dikata-katai.

“Saya berjualan, bukan untuk cari lawan! Saya cuma ingin cari uang untuk makan!” Ande balas perkataan Mimi.

Begitulah yang terjadi. Setiap kali banyak pembeli, dan kedai Ande dikerumuni mereka. Setiap itu pula lah, Mimi berciloteh. Menjelek-jelekkan Ande pada pembelinya. Kalau hanya sekedar itu mungkin Ande masih bisa menghadapinya. Tapi akhir-akhir ini ada yang lain dirasakan Ande. Kalau pembeli lagi ramai di kedai Ande, maka acapkali mereka diusir oleh orang gila yang lalu di depan kedai Ande. Selalu begitu.          Pembeli yang merasa takut pun terpaksa meninggalkan kedai Ande. Selidik demi  selidik ternyata Mimi yang melakukan itu. Ia begitu pintar menyuruh orang gila itu.

Ande merasa tidak aman lagi berjualan. Terlebih kemarin adalah hari yang paling panas antara Mimi dan Ande. Mereka perang mulut. Mimi tak bisa lagi mengendalikan diri. Ande perang mulut dengan Mimi sambil tetap melayani pembelinya. Disaat ramai begitu, Mimi mengejar Ande dengan pisau. Semua pembeli terperanjat, suasana pasar heboh. Ande berlari tanpa sendal di kakinya. Seorang pemuda, ternyata kakaknya Mimi mencegatnya. Membuang pisau itu jauh-jauh. Lalu menampar wanita itu.

“Kenapa Uda tampar aku! Si Ande tuh ambil langgananku! Apa salah ku, kenapa kedaiku selalu lengang. Kenapa orang-orang tidak berbelanja ke kedaiku!” Mimi berteriak-teriak di pasar. Sedang Ande bergegas ke warung telpon, menelpon Maman suaminya.

Ande dan suaminya mengadu ke kantor polisi. Ande sebenarnya keberatan. Tapi Maman tetap memaksa istrinya itu, demi keamanannya berjualan di pasar. Ternyata pengaduan itu tidak diterima karena tidak ada saksi. Ande coba mencari teman-teman sesama penjual di pasar untuk mau menjadi saksi. Namun, mereka semua tutup mulut. Ande baru sadar kalau Mimi punya saudara preman gadang di pasar itu. Mimi mengancam semua orang.

“Gimana nggak laku unjuak jari kau di kantuah polisi doh! Nggak tau kau, kalau banyak saudaraku preman disini! Tuh Jangan macam-macam denganku! Mengerti kau?!” Sambil tertawa miring Mimi mengatakan itu pada Ande.

Hari berikutnya, Ande tetaplah berusaha mencari saksi. Alhasil setelah memohon-mohon dan diimingi uang, baru ada Irma si tukang parut kelapa diam-diam mau  menjadi saksi. Esok harinya polisi memberi surat peringatan pada Mimi. Sejak itu lah Mimi mulai diam, dan Ande pun mulai merasa aman berjualan. Harapannya selalu ingin berjualan di pasar. Menghuni kedai yang sudah seperti belahan jiwa baginya. Dari masa gadisnya ia berjualan di kedai itu. Ia sudah punya tekad apa pun yang terjadi, ia akan tetap mempertahankan dirinya untuk bisa berjualan ikan asin di kedai itu.

***

Tok.Tok.Tok.

“Ande…, buka lah pintu cepat! Kedai kau terbakar! Ande, kedai kau terbakar!” Pukul tiga pagi, pak Amin tetangga Ande membangunkannya.

“Apa  Pak Amin, kedai terbakar?” Maman berteriak dari dalam rumah sambil mengambil kunci rumahnya. Dilemparnya kain sarung ke lantai.

“Man, kedai kau terbakar! Lihat lah ke pasar!”

“Astaghfirullah! Ande…bangun! Kedai kita terbakar! Kedai kita terbakar! Ande!”

Pagi, pukul tiga. Semua hangus. Puluhan kedai. Ada yang berteriak. Ada yang terisak-isak. Ada memukul-mukul dadanya. Kedai-kedai itu memang sudah lah tua usianya. Merusak pandangan, mungkin. Sudah berkali-kali satpol PP mengingatkan mereka. Tapi telinga tetap disumbat. Entah siapa yang disalah kan, sabotase kah? Atau preman pasar kah?

“Uda, terpaksa kita pakai uang tabungan itu dulu. Aku ingin tetap berjualan ikan asin di pasar ini. Di kedai itu. Kapan-kapan kita tabung uang lagi untuk beli rumah. Sabar lah Uda….” Ande merangkul suaminya. Matanya berkaca-kaca.

***

Terbit di Koran Singgalang, 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

Tas Berlampu
Cerpen Dewi Kumala Sutra (Padang Ekspres, 9 September 2008)

Pagi, setelah orang-orang balik dari surau. Amak melewati pematangan sawah. Penuh kehati-hatian Amak melangkah. Beban yang dibawa cukup berat. Satu karung bayam dijinjing di atas kepala. Kemaren Amak tersungkur. Kakinya terpuruk di tanah basah. Setelah berjalan sampai ke ujung, becak Pak Ci sudah menunggu di jalan. Amak menaruh beban di atas becak. Lalu Amak balik lagi melewati pematang, menjemput beberapa karung sayur yang masih tertinggal di pondoknya. Sedangkan Pak Ci tetap menunggu di jalan. Karung terakhir diangkat Amak. Kali ini ia tidak sendiri. Anak laki-lakinya berseragam merah putih mengiringi di belakang. Namanya Deri, karena susah menyebut huruf R waktu kecil,          iapundipanggilDel.

Amak duduk dan Del berdiri sambil memegang pundak Amak di atas becak. Pak Ci mengayuh sepeda dengan santai. Burung-burung pagi berkicau. Berterbangan dimana-mana.
“Mak, burung-burung tuh kok cepat bangunnya Mak?” Tanya Del.
“Karena mereka juga sama seperti kita, Nak. Bangun pagi-pagi, mencari makan untuk hidup.”
“Untuk sekolah kau, Del!” Pak Ci menimpali.
Amak bersyukur, Del anak satu-satunya bisa diterima di SD negeri. Kalau sampai seperti Budi anak tetangganya yang PNS itu, lantaran tak diterima di SD negeri, ia pun disekolahkan di SD swasta. Tentulah biayanya mahal. Amak cukup tegar membesarkan Del. Susah ia mendapatkan anak. Akhirnya Tuhan mengkaruniakannya juga. Meski dua tahun setelah Del lahir, suaminya meninggal karena mengidap penyakit gula.
“Tit tit tit tit…!” Suara klakson mobil, bus kota, angkot, motor, meriuhkan suasana di pasar Mambo. Belum lagi suara kusir bendi yang sedang bercakap dengan kudanya, lonceng sepeda, becak, dan…”ting ting ting…!” Gerobak kacang padi pagi tak mau kalah dengan lainnya.
Pak Ci membantu Amak menurunkan beban, dan menjinjingnya hingga sampai ke tempat Amak biasa berjualan. Jika semua sudah selesai, Amak mencari buntelan tempat menyimpan uang dari dalam kain sarung yang ia pakai. Buntelan itu berwarna putih, tampak kusam, dan berpeniti di tengahnya.
“Nih, makasih Pak Ci!” Amak memberikan satu helai lima ribuan dan empat koin lima ratusan.
“Ya, sama-sama!” Pak Ci mengambil uang itu, dan ia pun berlalu. Amak mengeluarkan sayur-sayur dari dalam karung. Sayur-sayur itu juga dibelinya dari orang yang berladang. Ada bayam dan kangkung. Lalu Amak menyusun rapi, dan memercikkan sedikit demi sedikit air di atas tumpukan sayur yang sudah rapi.
“Del, nih belanja kau!” Amak memberi Del dua helai ribuan.
“Makasih Mak, Assalamu’alaikum!” Del memasukkan uang dalam saku bajunya dan menciumi tangan Amak.
“Waalaikumussalam! Hati-hati kau menyebrang jalan, dan kau jangan bandel di sekolah.”
“Ya, Mak!” Del langsung berlari.
“Heh…jangan lari, nanti kau jatuh!” Mak berharap suaranya sampai pada Del.
“Amak, Amak!” Del balik lagi ke tempat Amak.
“Hah, kenapa kau balik?”
“Tas Del putus, Mak!” Del tampak cemas.
“Kan, tadi Amak bilang jangan berlari. Tas kau nih sudah hampir putus. Amak belum punya uang belikan kau tas baru.” Amak mengambil peniti buntelannya lalu memasangkan peniti itu di Tas Del.
Del terdiam.
“Dah, hati-hati memakainya! Cepat nanti kau terlambat upacara!”
Sebetulnya tas yang dipakai Del, sudah layak untuk dimuseumkan. Waktu ia TK, tetangganya PNS Itu, memberikan tas yang tak terpakai lagi oleh anaknya pada Del. Ketika itu, tas itu masih kelihatan bagus. Tapi, sekarang jahitannya sudah banyak yang putus. Terpaksa Amak menjahitnya dengan tangan. Tahun ajaran baru tentu banyak murid-murid berpakaian serba baru. Mulai dari seragam, sepatu, tas, buku. Mungkin hanya Del yang tidak pakai tas baru, sepatu baru, dan seragam baru. Karena lagi-lagi Amak beli baju seragam di lowakan. Kecuali buku, Amak berusaha membelikan Del buku tulis dan buku pelajarannya. Karena Amak juga ingin Del bisa belajar di rumah dengan buku-bukunya itu. Di bawah tenda payung tempat Amak berjualan, Amak juga berharap suatu saat nanti Del terhitung dalam barisan anak-anak sukses. Yah! Hanya itu harapannya sebagai seorang ibu.
***
“Mak, tas berlampu Mak! Tas berlampu, tas berlampu!” Malam ini Del menggigau lagi.
“Del, Del! Bangun, Nak! Kenapa kau menggigau terus!”
“Amak, Del mau tas berlampu seperti Rio. Beliin Del, Mak! Beliin Del tas baru, tas yang berlampu, ya Mak! Tas yang berlampu.” Del merengek.
Amak menatap Del penuh hiba.
“Besok, kalau kau juara Amak belikan!”
“Yang berlampu, Mak?” Del memastikan.
“Iya, yang berlampu!”
Amak kini merasakan, banyak perubahan dari Del. Anaknya itu semakin hari semakin rajin saja belajar. Nilai latihan dan ulangan di sekolah pun bagus. Sepertinya Del benar-benar termotivasi dengan janji Amaknya, yang bakal membelikan Del tas berlampu kalau juara. Tidak hanya itu Del rela menahan seleranya, ketika es cendol berdiri di gerbang sekolah. Ketika hari panas, dan kerongkongan kering, ketika teman-temannya antri membeli es cendol, ia hanya bisa menelan ludah. Karena kata Amak kalau ia mau beli tas berlampu harus hemat uang. Dan disisihkannyalah setiap hari uang belanjanya.
Siang, ketika Del pulang sekolah. Ia bergegas ke tempat Amaknya.
“Mak, Amak!” Lihat orang yang sedang beli ikan tuh Mak!”
“Kenapa?” Amak melihat seorang ibu dengan anaknya sebaya Del.
“Anak tuh teman Del Mak! Namanya Rio. Amak lihat kan tasnya?” Itu tas berlampu, Mak!”
Lama Amak menatap tas Rio dari kejauahan. Tas itu tampak berlampu. Bercahaya dari kejauhan. Berwarna hitam bergambar mobil di depannya. Di sekeliling mobil dihiasi lampu-lampu. Cukup unik kelihatannya. Jarang anak sekolah tampak memakai tas seperti itu. Lalu Amak berpikir tentulah harganya mahal.
Tanpa disengaja Ibu dan Rio singgah ke tempat Amak membeli sayur.
“Eh, ini ibunya Del?” Ibu Rio bertanya.
“Iya, Amaknya!” Kata Amak.
“Del, pandai di sekolah ya, Bu! Aktif tunjuk tangan kalau disuruh Bu gurunya menulis ke depan. Hitung-hitungan dia juga pintar. Nih, si Rio! Udah di temani ke sekolah, masih malas belajar!”
Amak hanya bisa balas dengan senyum.
“Berapa Bu, bayamnya?”
“Seribu lima ratus.”
“Makasih ya, Bu.”
“Sama-sama. Eh, Ibu! Saya mau nanya. Del minta dibelikan tas berlampu seperti Rio. Ibu belinya dimana ya?”
“Oh tas nih! Pamannya Rio beli di Jakarta. Tapi disini ada kok orang jual. Tuh di dekat Ramayana, kalau nggak salah seminggu lalu saya main kesana. Harganya seratus sembilan puluh sembilan ribu. Wah sama aja ya Bu, dua ratus ribu!”
“Dua ratus ribu?”
“Iya, dua ratus ribu.”
“O ya, makasih ya, Bu!’
“Ya! Pergi dulu Bu!”
Amak terdiam. Untuk beli tas saja dua ratus ribu. Dimana dicari uang sebanyak itu. Penghasilan satu harinya cukup untuk satu hari pula. Tapi Amak bertekad tetap akan membelikan Del tas berlampu, meski sekali pun Del tak juara, tentu Amak tetap ingin menyenangkan hati anaknya. Amak mulai mengumpulkan uangnya sedini mungkin.
***
“Amak…! Del juara! Del berlari ke tempat Amak.
“Krak! Krak!” Jahitan Del putus.
“Juara? Kau juara, Nak?” Amak memeluk Del, dicium anaknya. Lalu ia lihat nilai rapor Del penuh rasa haru.
“Kau anak Amak yang paling hebat! Hmm, angka sembilan aja yang banyak!”
“Mak, tas Del Mak, putus! Amak janji beliin Del tas berlampu kalau juara.”
Amak menarik napas. Di buntelannya belum cukup uang untuk membeli tas.
“Ya, hari terakhir kau libur Amak belikan, ya?”
“Hore! Janji ya, Mak?”
“Iya!”
Besok Del sudah mulai sekolah lagi. Hari ini adalah hari liburannya terakhir.
“Alhamdulillah, cukup!” Amak bertekad hari ini akan membawa Del beli tas berlampu itu.
“Uni!” Mimi yang tiap hari berjualan terung di samping Amak, datang menghampiri Amak. Wajahnya sendu.
“Eh, Mi! Tumben kau nggak berjualan hari ini!”
“Si Tika sakit, Ni! Mi nggak punya uang bawa dia berobat. Bibirnya pucat panasnya tinggi. Saya bisa pinjam uang Uni Delapan puluh ribu, Ni? Sepuluh hari lagi Mimi ganti. Mi nggak tau mau pinjam sama siapa lagi Ni.”
Amak termenung. Terbayang wajah Del gembira mendapatkan tas berlampunya, disisi lain terbayang wajah Tika kecil berusia sepuluh bulan sedang lemas di kasur kecilnya. Bagaimana pun disaat sepi pembeli, Amak sering bermain dengan Tika. Tika kecil yang selalu bikin Amak tertawa. Tiap hari Mimi membawa Tika ke pasar. Akhirnya diputuskan juga, Amak rela meminjamkan uang pada Mimi.
Del berangkat sekolah dengan wajah murung. Amak sudah menjahit tasnya.
“Sepuluh hari lagi, ya Nak. Kita beli tas berlampunya. Pasti, pasti Amak belikan.”
Hari kesepuluh. Mimi belum kunjung berjualan. Amak sudah tak tahan melihat wajah murung Del. Tapi uang di buntelannya masih tidak cukup. Kemaren pengeluaran juga bertambah. Del harus beli buku pelajaran baru.
“Dua minggu lagi, Amak belikan ya, Nak! InsyaAllah uang Amak cukup. Del jangan khawatir, tas berlampu tuh, nggak bakal habis di toko.”
“Amak janji-janji terus!” Del menampakkan wajah masamnya.
“Iya, besok pasti! Pasti, Nak!”
“Benar? Amak nggak bohong lagi kan?
“Nggak! Pasi kata Amak!”
Del mulai tersenyum.
***
“Bayamnya tujuh ikat, berapa Bu?” Seorang wanita berusia tiga puluhan, berkaca mata reben, make up tebal, memakai rok jeans pendek dan berkaos merah, tiba-tiba datang membeli sayur Amak sebanyak tujuh ikat. Bagi Amak cukup banyak.
“Sepuluh ribu lima ratus, Bu!”
“Nih!” Dia mengeluarkan sehelai seratus ribuan.
“Wah, uangnya besar sekali nggak ada uang kecil Bu? Saya baru buka.”
“Duh, nggak ada Nih!”
“Sebentar ya , Bu! Saya tukar dulu.” Amak bergegas ke kedai-kedai yang baru buka.
“Hari masih pagi! Mana ada tukar uang besar!” Begitulah kata orang-orang di kedai.
Amak balik lagi ke tempatnya.
“Bu, kembaliannya uang receh dan ribuan, nggak apa-apa? Nggak ada tukar uang?”
“Ya, nggak apa-apa!”
Amak menghitung uang receh, koin lima ratusan dan ribuan yang sudah dihitung sepuluh ribu masing-masingnya.
“Nih, kembaliannya delapan puluh sembilan ribu lima ratus. Makasih, ya Bu.”
“Sama-sama!”
Ini adalah hari yang dijanjikan Amak. Uang dalam buntelannya sudah cukup untuk membeli tas berlampu. Sore, sesudah tutup jualan, Amak dan Del berjalan menuju toko. Del tampak sangat riang. Pegawai toko seperti was-was saja dengan kedatangan Amak dan Del. Entah karena penampilan mereka yang berbeda dari pengunjung lainnya.
“Mak tuh, tas berlampu!” Tas itu tampak tinggal satu.
“Cobalah pakai!” kata Amak.
“Bagus, Mak?” Del mencoba menyandangnya.
“Ya, bagus! Kau gagah memakainya!”
“Tas nih, berapa harganya?”
“Dua ratus ribu kurang seribu, Bu!” Pegawai itu mengantar Amak ke tempat pembayaran.
Amak mengeluarkan sehelai seratus ribuan, dan selebihnya uang ribuan.
“Nggak, nggak usah dibungkus, Tante! Del mau pakai langsung!” kata Del pada pegawai toko.
“O ya, nih!”
Amak lega janjinya pada Del sudah terbayar,. Del pun tampak sangat gembira. Baru beberapa langkah mereka keluar dari toko…
“Ibu…! Ibu…!” Terdengar suara pegawai toko. Dia mengejar Amak.
“Kenapa?”
“Maaf, Ibu! Uang seratus ribu Ibu ini palsu!” Sambil memperlihatkan uang itu.
“Palsu?” Amak terperangah.
“Iya, Bu! Palsu!”
“Ta..tapi, saya nggak punya uang lagi!”
“Kalau begitu, kembalikan saja tasnya! Kalau udah punya uang, Ibu kesini lagi!”
“Del, buka tasnya Nak!” Amak meminta dengan suara lemah.
“Nggak, nggak mau!” Del mengelak-elakan tubuhnya dari tangan Amak.
“Besok kita beli!”
“Del, nggak mau! Nggak mau Mak! Ini tas berlampu Del!”
Amak memaksa Del. Tas itu pun terlepas dari sandangan Del. Pegawai itu membawa tas berlampu ke tokonya.
“Hu…a…, Amak jahat! Amak jahat!” Del duduk di tretoar. Lalu mengguling-gulingkan tubuhnya sambil menghentak-hentakkan kakinya.
“Tas berlampu Del! Tante kembalikan! Kembalikan tas berlampu Del! Amak jahat…! Jahat…! Jahat! Tas berlampu…hu…hu…!”
Orang-orang yang lalu lalang di pasar hanya menolehkan wajah sebentar, lalu mereka memalingkan wajah dan terus berjalan. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Amak. Bibirnya bergemetar, seiring bulir-bulir bening halus berjatuhan di pipinya.
“Amak jahat…! Tante jahat…! Tas berlampu Del! Tas berlampu Del…!” Del meraung sekuat mungkin.
Ayunan TK Adzkia, 6 Mei 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ROTI-ROTI

Oleh: Dewi Kumala Sutra

Pagi setelah jam dinding berdentang enam kali. Mey meredupkan lampu teploknya. Bagi Mey, berhemat minyak tanah lebih penting daripada terus menyalakan lampu itu. Ya, sejak listrik diputus di rumah Mey. Tunggakan listrik menunggak, tak kunjung ia bayar. Sebenarnya Mey cukup segan dengan tetangganya, banyak mereka bertanya pada anak-anak Mey tentang kebetahan mereka bergelap-gelap di rumah. Jadilah rumah separuh kayu dan batu  peninggalan suami pertama Mey itu tak terlihat di malam hari.  Namun, meskipun begitu biasanya Ririn anak sulung Mey kelas empat SD, selalu minta izin pada ibunya menyalakan lampu teplok hingga larut malam. Ia gemar membaca. Di rumahnya, menumpuk koran-koran dan majalah bekas. Semua itu didapatkannya dari pabrik kertas di dekat rumah. Pak Bodi, salah satu pekerja di pabrik itu tahu Ririn gemar membaca, ia lah yang sering memberi Ririn koran dan majalah bekas.

Mey bersiap-siap berangkat ke tempat kerja barunya. Kevin’s Bakery salah satu pabrik roti terkenal di kota ini, adalah tempat persinggahan Mey mencari uang setelah berhenti kerja di rumah potong ayam. Mey merasa tak cukup gaji bekerja di rumah potong. Apalagi sudah empat bulan gajinya ditahan Bos. Sedang keempat anaknya, Ririn, Rina, Rio, Rido selalu merengek minta beli ini-itu. Mulut-mulut mereka terus menganga, minta dibelikan bubur ayam, pecel lele, goreng pisang, es tong-tong, permen, roti, segala kue, belum lagi Rido yang masih berumur dua tahun itu, paling tidak bisa melihat penjual mainan bila gerobaknya sudah tiba di depan rumah. Pintanya harus dituruti sampai bisa membeli mainan.

Mey bisa dibilang cukup tegar menghadapi hidup. Setelah suami pertamanya meninggal karena penyakit jantung, Mey setahun kemudian menikah dengan seorang duda sudah punya anak lima. Suaminya itu, kemudian menikah lagi dengan orang lain, kemudian cerai, lalu menikah lagi, begitulah kerja suami barunya. Mey tidak tahan, ia pun meminta cerai. Mey punya anak dua dari suami pertama dan dua juga dari suami keduanya. Setelah bercerai, seratus rupiah pun  mantan suaminya itu tak pernah memberi anak-anaknya uang. Jadilah Mey sekarang bekerja keras menghidupi keempat anaknya.

***

Mey sangat bersenang hati bisa bekerja di Kevin’s Bakery. Ijazah SMA-nya cukup berterima ketika melamar di Kevin’s Bakery. Siapa yang tidak kenal Kevin’s Bakery? Pabrik roti yang selalu diminati orang-orang beruang untuk pesta dan acara di gedung-gedung, hotel, dan instansi lainnya. Mereka sering memesan roti di Kevin’s Bakery.

Hari ini adalah hari kesepuluh Mey bekerja. Ia  mulai bergerak memecahkan tiga ratusan telur. Tidak sembarang memecahkan. Putih dan kuning telurnya mesti dipisahkan. Setelah selesai Boy akan menggodok adonan sesukanya dengan telur itu. Sebagai orang baru Mey diminta untuk memperhatikan cara kerja Boy sebulan ini. Begitu juga ada empat orang pekerja baru lainnya. Mey membantu mengiris-iris keju batang, coklat batang, sosis, paprika, wortel, dan lainnya. Kemudian ia juga memoles roti dengan margarine, selai strawberry, anggur, sarikaya, nenas.

Mey menelan air ludahnya ketika mencium aroma dan melihat roti-roti itu sudah selesai dipanggang. Semua akan dimasukkan ke dalam kotak. Lalu didistribusikan ke toko-toko, swalayan, maupun di gedung-gedung.

“Mey, cobalah rotinya satu!” sahut Boy.

“I…iya, Mas!” balas Mey.

“Mey, kalau di sini kita diberi jatah makan dua  roti tiap hari. Tapi, tidak boleh dibawa pulang. Itu aturannya si Bos.”

“Iya, Mas.” Mey mencoba satu kue korisan. Sebenarnya, sedari malam perutnya sudah kriyuk-kriyuk. Di rumah tidak ada beras untuk makan lagi. Namun, .masih ada sisa bantuan mie setengah kardus dari orang bermobil Avanza yang singgah di rumahnya beberapa hari lalu.

***

“Bu, Bu, Ibu kan kerja di pabrik roti… pasti di sana ibu bisa makan roti-roti yang enak-enak ya, Bu? Ibu pernah makan pitsa yut juga ya? Gimana rasanya, Bu? Enak? Kok ibu nggak pernah bawakan untuk kami?” tanya Rio malam hari itu, ketika saudaranya yang lain sudah tertidur pulas.

Mey  diam. “Kalau…kalau…roti donatnya pasti enak juga ya, Bu?” tambah Rio.

“Hm, i…iya enak, Nak. Bukan pitsa yut namanya, tapi pizza hut. Di tempat ibu kerja, pizza aja namanya. Donatnya, hm…iya enak. Tapi….” Mey tidak bisa meneruskan. Bulir-bulir bening halus hendak berhujan di pipinya. Di pabrik ia bisa makan roti enak-enak, tapi di rumah anak-anaknya sering makan mie.

“Tapi kenapa, Bu?”

“Tapi…, tapi ya roti-roti itu cuma enak dimakan bule, Nak. Rotinya pahit, pedas sekali. Bagi ibu tidak enak. Tapi bagi bule, orang-orang barat yang rambutnya putih-putih itu, enak sekali.” Mey berbohong.

“Oo…nggak enak ya, Bu? Rio nggak mau ah…, roti-roti pabrik ibu!” ciloteh Rio. Mey, hanya bisa balas dengan senyum miris.

“Bu, kapan ya kita bisa makan nasi lagi..? Rio ingin makan nasi campur ayam kecap, Bu…”

“Iya, Nak. Besok kita beli kalau ibu udah ada uang ya, kan mie kita masih ada.”

“Rio, bosan makan mie terus, Bu.”

“Aduh…. Ibu…! Perut Rina sakit…! Aduh….” Rina tiba-tiba terjaga, berteriak di dalam kamar.

“Rina kenapa?”

“Perut Rina sakit, Bu.”

“Masuk angin? Sini,  diminyaki telon mau?.” Mey tampak panik.

“Bu, Rina nggak mau makan mie lagi, Bu. Mungkin karena tiap hari makan mie terus. Huhuhu….sakit…, Bu!”

“Iya…iya, insyaAllah besok kita beli beras, Nak. Sabar ya Nak, doakan ibu besok dapat uang”

***

Pagi ini, Mey sudah bersiap-siap pergi kerja. Diantara pekerja pabrik lainnya, hanya Mey yang berjalan kaki. Selebihnya bersepeda motor ataupun naik angkot. Padahal jarak pabrik dari rumah Mey cukup jauh. Namun, sejak gajinya ditahan Bos di potong ayam itu, ia tidak punya uang di saku lagi, walau itu hanya untuk ongkos. Ia hanya bisa menunggu gaji perdana di pabrik roti. Seminggu lagi ia akan menerima itu.

Sepanjang jalan menuju pabrik Mey tak hentinya berpikir bagaimana bisa mendapati uang untuk beli beras dan sambal. Matanya sudah cekung, badannya kerempeng, belum lagi anak-anaknya sering sakit perut. Mey, sudah malu mengambil bahan masakan di kedai-kedai dekat rumahnya, rata-rata ia sudah punya hutang banyak. Kadang ia cepat-cepat berjalan kaki, bila tiba di depan kedai-kedai itu, takut yang punya kedai minta piutang. Mereka akan menyoraki Mey dari kejauhan “ Mey, sudah ada uang, belum? Bayar hutang?” begitu kata mereka. Bahkan ada juga yang sudah tidak tahan dengan janji Mey. “Janjimu ingkar terus, Mey! Kapan bisa bayar hutang?!”

“Mey, cobalah rotinya!” suara Boy, mengagetkan lamunan Mey.

“Oh, iya.” Balas Mey dingin.

Mey mencoba mencicipi donat bertabur keju dan mises coklat di atasnya. Satu gigit, dua gigit, tiga gigit, empat gigit. Mey diam. Kerongkongannya terasa perih, berduri. Teringat Rio anaknya bertanya tentang roti-roti yang enak malam lalu. “Ibu pernah makan pitsa yut juga ya? Gimana rasanya, Bu? Enak? Kok ibu nggak pernah bawakan untuk kami?” Terbayang wajah anak-anaknya saat ini sedang sakit perut makan mie. Akhirnya tangisnya pun pecah. Untunglah tidak ada seorang pun berdiri di Kitchen, tidak juga Boy dan pekerja lain. Mereka sibuk mengepak roti , memasukkannya ke dalam kotak-kotak kue.

Mey melihat ke kiri dan ke kanan. Mey membuka etalase kue. Ada bermacam rasa korisan. Mey mengambil empat buah roti enak itu. Mey cepat-cepat memasukkannya ke dalam tas. Mey ingin menebus dustanya pada Rio. Mey bilang roti-roti di pabrik hanya disukai bule. Mey bilang tidak enak roti itu di lidahnya terasa pahit. Padahal Mey justru doyan memakannya. Mey tak mampu lagi menggoyangkan lidahnya sendiri dengan roti-roti di bakery hari ini, pikirannya tertuju hanya pada anak-anaknya di rumah kelaparan.

Mey berkeringatan. Cemas. Was-was.

***

“Mey, apa yang kamu sembunyikan tadi, hah?! Hebat sekali kamu! Pegawai baru sudah berani mencuri!”  Bentak seorang berkumis tebal itu. Manajer.

“Dasar pencuri! Saya pecat kamu! Saya pecat, mau hah?!”

Mey kaget. “Sa…sa…sa…saya….” Mey gugup tak sanggup berkata-kata.

 

Adiq’s house, Juli 2010

Terbit di Koran Singgalang 2010

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: