ROTI-ROTI

Cerpen

ROTI-ROTI

Oleh: Dewi Kumala Sutra

 

Pagi setelah jam dinding berdentang enam kali. Mey meredupkan lampu teploknya. Bagi Mey, berhemat minyak tanah lebih penting daripada terus menyalakan lampu itu. Ya, sejak listrik diputus di rumah Mey. Tunggakan listrik menunggak, tak kunjung ia bayar. Sebenarnya Mey cukup segan dengan tetangganya, banyak mereka bertanya pada anak-anak Mey tentang kebetahan mereka bergelap-gelap di rumah. Jadilah rumah separuh kayu dan batu  peninggalan suami pertama Mey itu tak terlihat di malam hari.  Namun, meskipun begitu biasanya Ririn anak sulung Mey kelas empat SD, selalu minta izin pada ibunya menyalakan lampu teplok hingga larut malam. Ia gemar membaca. Di rumahnya, menumpuk koran-koran dan majalah bekas. Semua itu didapatkannya dari pabrik kertas di dekat rumah. Pak Bodi, salah satu pekerja di pabrik itu tahu Ririn gemar membaca, ia lah yang sering memberi Ririn koran dan majalah bekas.

Mey bersiap-siap berangkat ke tempat kerja barunya. Kevin’s Bakery salah satu pabrik roti terkenal di kota ini, adalah tempat persinggahan Mey mencari uang setelah berhenti kerja di rumah potong ayam. Mey merasa tak cukup gaji bekerja di rumah potong. Apalagi sudah empat bulan gajinya ditahan Bos. Sedang keempat anaknya, Ririn, Rina, Rio, Rido selalu merengek minta beli ini-itu. Mulut-mulut mereka terus menganga, minta dibelikan bubur ayam, pecel lele, goreng pisang, es tong-tong, permen, roti, segala kue, belum lagi Rido yang masih berumur dua tahun itu, paling tidak bisa melihat penjual mainan bila gerobaknya sudah tiba di depan rumah. Pintanya harus dituruti sampai bisa membeli mainan.

Mey bisa dibilang cukup tegar menghadapi hidup. Setelah suami pertamanya meninggal karena penyakit jantung, Mey setahun kemudian menikah dengan seorang duda sudah punya anak lima. Suaminya itu, kemudian menikah lagi dengan orang lain, kemudian cerai, lalu menikah lagi, begitulah kerja suami barunya. Mey tidak tahan, ia pun meminta cerai. Mey punya anak dua dari suami pertama dan dua juga dari suami keduanya. Setelah bercerai, seratus rupiah pun  mantan suaminya itu tak pernah memberi anak-anaknya uang. Jadilah Mey sekarang bekerja keras menghidupi keempat anaknya.

***

Mey sangat bersenang hati bisa bekerja di Kevin’s Bakery. Ijazah SMA-nya cukup berterima ketika melamar di Kevin’s Bakery. Siapa yang tidak kenal Kevin’s Bakery? Pabrik roti yang selalu diminati orang-orang beruang untuk pesta dan acara di gedung-gedung, hotel, dan instansi lainnya. Mereka sering memesan roti di Kevin’s Bakery.

Hari ini adalah hari kesepuluh Mey bekerja. Ia  mulai bergerak memecahkan tiga ratusan telur. Tidak sembarang memecahkan. Putih dan kuning telurnya mesti dipisahkan. Setelah selesai Boy akan menggodok adonan sesukanya dengan telur itu. Sebagai orang baru Mey diminta untuk memperhatikan cara kerja Boy sebulan ini. Begitu juga ada empat orang pekerja baru lainnya. Mey membantu mengiris-iris keju batang, coklat batang, sosis, paprika, wortel, dan lainnya. Kemudian ia juga memoles roti dengan margarine, selai strawberry, anggur, sarikaya, nenas.

Mey menelan air ludahnya ketika mencium aroma dan melihat roti-roti itu sudah selesai dipanggang. Semua akan dimasukkan ke dalam kotak. Lalu didistribusikan ke toko-toko, swalayan, maupun di gedung-gedung.

“Mey, cobalah rotinya satu!” sahut Boy.

“I…iya, Mas!” balas Mey.

“Mey, kalau di sini kita diberi jatah makan dua  roti tiap hari. Tapi, tidak boleh dibawa pulang. Itu aturannya si Bos.”

“Iya, Mas.” Mey mencoba satu kue korisan. Sebenarnya, sedari malam perutnya sudah kriyuk-kriyuk. Di rumah tidak ada beras untuk makan lagi. Namun, .masih ada sisa bantuan mie setengah kardus dari orang bermobil Avanza yang singgah di rumahnya beberapa hari lalu.

***

“Bu, Bu, Ibu kan kerja di pabrik roti… pasti di sana ibu bisa makan roti-roti yang enak-enak ya, Bu? Ibu pernah makan pitsa yut juga ya? Gimana rasanya, Bu? Enak? Kok ibu nggak pernah bawakan untuk kami?” tanya Rio malam hari itu, ketika saudaranya yang lain sudah tertidur pulas.

Mey  diam. “Kalau…kalau…roti donatnya pasti enak juga ya, Bu?” tambah Rio.

“Hm, i…iya enak, Nak. Bukan pitsa yut namanya, tapi pizza hut. Di tempat ibu kerja, pizza aja namanya. Donatnya, hm…iya enak. Tapi….” Mey tidak bisa meneruskan. Bulir-bulir bening halus hendak berhujan di pipinya. Di pabrik ia bisa makan roti enak-enak, tapi di rumah anak-anaknya sering makan mie.

“Tapi kenapa, Bu?”

“Tapi…, tapi ya roti-roti itu cuma enak dimakan bule, Nak. Rotinya pahit, pedas sekali. Bagi ibu tidak enak. Tapi bagi bule, orang-orang barat yang rambutnya putih-putih itu, enak sekali.” Mey berbohong.

“Oo…nggak enak ya, Bu? Rio nggak mau ah…, roti-roti pabrik ibu!” ciloteh Rio. Mey, hanya bisa balas dengan senyum miris.

“Bu, kapan ya kita bisa makan nasi lagi..? Rio ingin makan nasi campur ayam kecap, Bu…”

“Iya, Nak. Besok kita beli kalau ibu udah ada uang ya, kan mie kita masih ada.”

“Rio, bosan makan mie terus, Bu.”

“Aduh…. Ibu…! Perut Rina sakit…! Aduh….” Rina tiba-tiba terjaga, berteriak di dalam kamar.

“Rina kenapa?”

“Perut Rina sakit, Bu.”

“Masuk angin? Sini,  diminyaki telon mau?.” Mey tampak panik.

“Bu, Rina nggak mau makan mie lagi, Bu. Mungkin karena tiap hari makan mie terus. Huhuhu….sakit…, Bu!”

“Iya…iya, insyaAllah besok kita beli beras, Nak. Sabar ya Nak, doakan ibu besok dapat uang”

***

Pagi ini, Mey sudah bersiap-siap pergi kerja. Diantara pekerja pabrik lainnya, hanya Mey yang berjalan kaki. Selebihnya bersepeda motor ataupun naik angkot. Padahal jarak pabrik dari rumah Mey cukup jauh. Namun, sejak gajinya ditahan Bos di potong ayam itu, ia tidak punya uang di saku lagi, walau itu hanya untuk ongkos. Ia hanya bisa menunggu gaji perdana di pabrik roti. Seminggu lagi ia akan menerima itu.

Sepanjang jalan menuju pabrik Mey tak hentinya berpikir bagaimana bisa mendapati uang untuk beli beras dan sambal. Matanya sudah cekung, badannya kerempeng, belum lagi anak-anaknya sering sakit perut. Mey, sudah malu mengambil bahan masakan di kedai-kedai dekat rumahnya, rata-rata ia sudah punya hutang banyak. Kadang ia cepat-cepat berjalan kaki, bila tiba di depan kedai-kedai itu, takut yang punya kedai minta piutang. Mereka akan menyoraki Mey dari kejauhan “ Mey, sudah ada uang, belum? Bayar hutang?” begitu kata mereka. Bahkan ada juga yang sudah tidak tahan dengan janji Mey. “Janjimu ingkar terus, Mey! Kapan bisa bayar hutang?!”

“Mey, cobalah rotinya!” suara Boy, mengagetkan lamunan Mey.

“Oh, iya.” Balas Mey dingin.

Mey mencoba mencicipi donat bertabur keju dan mises coklat di atasnya. Satu gigit, dua gigit, tiga gigit, empat gigit. Mey diam. Kerongkongannya terasa perih, berduri. Teringat Rio anaknya bertanya tentang roti-roti yang enak malam lalu. “Ibu pernah makan pitsa yut juga ya? Gimana rasanya, Bu? Enak? Kok ibu nggak pernah bawakan untuk kami?” Terbayang wajah anak-anaknya saat ini sedang sakit perut makan mie. Akhirnya tangisnya pun pecah. Untunglah tidak ada seorang pun berdiri di Kitchen, tidak juga Boy dan pekerja lain. Mereka sibuk mengepak roti , memasukkannya ke dalam kotak-kotak kue.

Mey melihat ke kiri dan ke kanan. Mey membuka etalase kue. Ada bermacam rasa korisan. Mey mengambil empat buah roti enak itu. Mey cepat-cepat memasukkannya ke dalam tas. Mey ingin menebus dustanya pada Rio. Mey bilang roti-roti di pabrik hanya disukai bule. Mey bilang tidak enak roti itu di lidahnya terasa pahit. Padahal Mey justru doyan memakannya. Mey tak mampu lagi menggoyangkan lidahnya sendiri dengan roti-roti di bakery hari ini, pikirannya tertuju hanya pada anak-anaknya di rumah kelaparan.

Mey berkeringatan. Cemas. Was-was.

***

 

“Mey, apa yang kamu sembunyikan tadi, hah?! Hebat sekali kamu! Pegawai baru sudah berani mencuri!”  Bentak seorang berkumis tebal itu. Manajer.

“Dasar pencuri! Saya pecat kamu! Saya pecat, mau hah?!”

Mey kaget. “Sa…sa…sa…saya….” Mey gugup tak sanggup berkata-kata.

 

 

Adiq’s house, Juli 2010

Terbit di Koran Singgalang 2010

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: